Jateng.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyatakan dukungannya terhadap langkah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang menjadikan Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Surakarta sebagai pusat koordinasi pengembangan ekonomi di kawasan Solo Raya.
Langkah tersebut dinilai sebagai strategi progresif untuk memperkuat integrasi ekonomi antardaerah sekaligus mendorong pertumbuhan yang lebih merata.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Dukung Transformasi 153 Pasar Jakarta, Dorong Aglomerasi Jabodetabekjur Naik Kelas
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk terobosan penting dalam tata kelola pembangunan daerah.
“Pendekatan aglomerasi seperti ini adalah jawaban atas tantangan pembangunan modern. Kita tidak bisa lagi bekerja sendiri-sendiri, melainkan harus bergerak sebagai satu kesatuan kawasan ekonomi,” ujarnya.
Menurut Tohom, pemanfaatan Bakorwil Surakarta sebagai pusat konsolidasi merupakan langkah strategis untuk menyatukan berbagai kepentingan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga akademisi.
Baca Juga:
MRT Jakarta–Bekasi Segera Dibangun, MARTABAT Prabowo-Gibran: Momentum Integrasi Ekonomi Kawasan
Ia menegaskan bahwa model ini akan mempercepat sinkronisasi kebijakan sekaligus menghindari tumpang tindih program pembangunan.
“Dengan adanya satu pusat koordinasi, komunikasi menjadi lebih efektif, keputusan lebih cepat, dan implementasi kebijakan bisa lebih terarah. Ini akan meningkatkan kepercayaan investor terhadap stabilitas dan kesiapan kawasan,” tambahnya.
Tohom juga menilai bahwa Solo Raya memiliki keunggulan komparatif yang kuat, baik dari sisi industri, pariwisata, maupun ekonomi kreatif.
Kombinasi ini, menurutnya, akan menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi regional.
Lebih lanjut, Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch mengatakan bahwa pendekatan kawasan seperti ini harus menjadi model nasional.
“Apa yang dilakukan di Solo Raya ini bisa menjadi blueprint bagi wilayah lain di Indonesia. Aglomerasi bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang pemerataan pembangunan dan penguatan daya saing nasional,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung ekosistem aglomerasi tersebut.
Menurutnya, keterlibatan akademisi akan memperkuat basis riset, inovasi, serta pengembangan sumber daya manusia yang menjadi kunci keberlanjutan ekonomi kawasan.
“Jika akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah bisa berjalan seirama, maka kita tidak hanya bicara pertumbuhan, tetapi juga kualitas pembangunan. Ini yang akan membawa Solo Raya menjadi episentrum ekonomi baru di Jawa Tengah,” jelasnya.
Tohom optimistis bahwa dengan kolaborasi yang kuat, Solo Raya tidak hanya mampu meningkatkan investasi, tetapi juga membuka lapangan kerja yang lebih luas serta memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]