Kepala Pusat Riset Politik BRIN, Firman Noor, menyebut, perang proxy yang dilakukan para buzzer masih akan saling serang untuk membungkam kritik dan memunculkan versi kebenarannya sendiri.
"Termasuk adanya gangguan 'perang proxy' yang melibatkan para buzzer untuk saling serang dan juga membungkam kritik dan mencanangkan satu versi kebenaran," ucap Firman, dalam diskusi daring Setelah 2 Tahun Jokowi-Maruf: Pandemi, Legasi dan Tahun Politk, Jumat (22/10/2021).
Baca Juga:
Sepanjang Libur Lebaran Idulfitri, Pemkab Angkut 8.126 Ton Sampah dari Pulau Harapan
Kata Firman, kelompok buzzer ini masih akan terus bergulat dengan lingkungan yang tidak kondusif.
Hal ini membuat konsolidasi civil society masih akan tercerai-berai (scattered) bahkan kadang saling silang.
"Secara umum kalangan ini masih terus bergulat dengan lingkungan yang tidak kondusif," ucapnya.
Baca Juga:
Belanja Pakai Uang Palsu, Wanita di Kawasan Kemang Jaksel Diciduk Polisi
Buzzer Berdampak Negatif bagi Demokrasi Indonesia
Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), menilai, kehadiran buzzer berdampak negatif bagi perkembangan demokrasi di Indonesia.