Jateng.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif perluasan Program Resiliensi untuk Industri Masa Depan atau PRIMA di Kawasan Ekonomi Khusus Industropolis Batang karena program tersebut dinilai mampu mempertemukan pertumbuhan investasi dengan peningkatan kualitas tenaga kerja lokal.
“Program PRIMA menunjukkan bahwa pembangunan kawasan industri dapat dirancang bukan hanya untuk menghadirkan pabrik dan modal, tetapi juga untuk menciptakan jalan kemajuan bagi generasi muda di daerah,” kata Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran KRT Tohom Purba di Jakarta, Jumat (10/07/2026).
Baca Juga:
Pembentukan 6 KEK Baru Menunggu PP, MARTABAT Prabowo-Gibran: Investasi Harus Berdampak ke Rakyat
Tohom mengatakan perluasan jumlah peserta menjadi 756 siswa dan taruna mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap program pendidikan yang memiliki hubungan langsung dengan dunia kerja.
“Anak-anak muda membutuhkan kepastian bahwa keterampilan yang mereka pelajari di sekolah benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri dan dapat menjadi bekal untuk memperoleh pekerjaan yang layak,” ujarnya.
Menurut Tohom, keterlibatan sekolah, perusahaan, perguruan tinggi, psikolog, dan TNI menjadikan Program PRIMA sebagai model pembinaan sumber daya manusia yang menyentuh kemampuan teknis, ketahanan mental, kebugaran fisik, serta kedisiplinan.
Baca Juga:
Potensi Investasi KEK Capai Rp846 Triliun, MARTABAT Prabowo-Gibran: Negara Harus Siap Eksekusi
Ia menilai pendekatan tersebut sejalan dengan visi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam membangun sumber daya manusia unggul sebagai fondasi transformasi ekonomi nasional.
“Industrialisasi tidak akan bertahan kuat apabila tenaga kerjanya tidak dipersiapkan secara sistematis, sedangkan pendidikan juga akan kehilangan relevansi apabila tidak memahami perubahan kebutuhan dunia usaha,” katanya.
Tohom menilai keterlibatan langsung guru SMK dalam penyelenggaraan Program PRIMA akan mempercepat penyesuaian metode pembelajaran dengan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan di kawasan industri.
“Guru yang memahami kebutuhan perusahaan secara langsung dapat membawa pengalaman tersebut ke ruang kelas sehingga siswa tidak mengalami kesenjangan besar ketika memasuki lingkungan kerja,” ucapnya.
Ia mengatakan program pengembangan tenaga kerja lokal juga dapat meningkatkan kepercayaan investor karena perusahaan memperoleh kepastian mengenai ketersediaan sumber daya manusia yang terampil, disiplin, adaptif, dan siap mengikuti standar industri global.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pembangunan KEK Batang perlu dipandang sebagai bagian dari pembentukan pusat pertumbuhan ekonomi baru yang manfaatnya harus menjangkau masyarakat di Batang, Pekalongan, Kendal, Tegal, dan daerah sekitarnya.
“Keberhasilan suatu kawasan ekonomi tidak cukup dinilai dari nilai investasi, tetapi juga dari banyaknya warga lokal yang memperoleh pekerjaan, peningkatan pendapatan, keterampilan baru, dan kesempatan memperbaiki taraf hidup,” katanya.
Menurut Tohom, pola kolaborasi pendidikan dan industri seperti Program PRIMA perlu dikembangkan di kawasan ekonomi khusus lainnya agar investasi yang masuk tidak menghadapi kekurangan tenaga kerja sekaligus tidak meninggalkan masyarakat setempat sebagai penonton.
Ia juga mendorong pemerintah daerah dan pengelola kawasan menyusun sistem pemantauan lulusan agar peserta yang telah menyelesaikan program memperoleh akses informasi lowongan, sertifikasi kompetensi, pelatihan lanjutan, dan jalur rekrutmen yang transparan.
“Program ini harus menghasilkan rantai yang utuh mulai dari pembinaan, penguatan kompetensi, sertifikasi, penempatan kerja, hingga peningkatan karier agar dampaknya dapat diukur secara nyata,” ujarnya.
Tohom berharap perusahaan-perusahaan yang beroperasi di KEK Industropolis Batang semakin aktif menyampaikan kebutuhan kompetensi kepada sekolah serta memberikan ruang bagi siswa untuk mengenal teknologi, budaya kerja, keselamatan kerja, dan sistem produksi modern.
“Ketika pemerintah, sekolah, industri, dan masyarakat bergerak dalam arah yang sama, Batang dapat tumbuh menjadi pusat manufaktur sekaligus pusat kelahiran talenta industri kelas dunia,” katanya.
Program PRIMA 2026 diperluas dari lima menjadi delapan SMK dengan 160 peserta inti serta mendapatkan tambahan partisipasi mandiri sebanyak 360 siswa dari SMK Negeri 1 Batang dan 106 taruna dari Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Tegal.
Program tersebut melibatkan praktisi sumber daya manusia dari PT KCC Glass Indonesia dan PT Wavin Manufacturing Indonesia, kunjungan ke fasilitas produksi, pendampingan psikolog Universitas Diponegoro, serta pelatihan kedisiplinan bersama TNI.
Pelaksana Tugas Direktur Utama KEK Industropolis Batang Indri Septa Respati menyatakan perluasan program mencerminkan meningkatnya kepercayaan institusi pendidikan dan industri terhadap upaya penyiapan tenaga kerja lokal.
Kepala Seksi SMK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XII Provinsi Jawa Tengah Agus Nowo Edy juga menilai Program PRIMA sebagai pelaksanaan konsep keterhubungan pendidikan dan industri yang lebih komprehensif dibandingkan pola magang konvensional.
[Redaktur: Sandy]