Jateng.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif investasi kerja sama Indonesia-China senilai Rp37,1 triliun yang turut menyasar KEK Industropolis Batang, Jawa Tengah.
Investasi tersebut dinilai menjadi momentum untuk memperkuat basis industri hijau nasional sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Baca Juga:
KEK Batang Perkuat Kualitas Tenaga Kerja, MARTABAT Prabowo-Gibran: Talenta Lokal Jadi Fondasi Industrialisasi
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba mengatakan, “Investasi sebesar ini harus menjadi daya ungkit untuk membangun pusat industri hijau yang menghasilkan nilai tambah tinggi.”
Menurut Tohom, pengembangan KEK Industropolis Batang sejalan dengan arah pemerintah dalam memperkuat hilirisasi, industrialisasi, penciptaan lapangan kerja, serta pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Ia melihat skema Two Countries Twin Parks atau TCTP dapat menjadi pintu masuk untuk mempercepat transfer teknologi dan penggunaan energi bersih.
Baca Juga:
GI 150 kV Pabuaran Perkuat Industri Subang, ALPERKLINAS: PLN Hadirkan Energi untuk Masa Depan Ekonomi Daerah
Skema tersebut juga dinilai dapat memperkuat ekonomi sirkular, kompetensi tenaga kerja, serta integrasi industri Indonesia dengan jaringan produksi internasional.
“Indonesia jangan berhenti menjadi lokasi masuknya modal, tetapi harus memastikan setiap investasi membawa teknologi, pengetahuan, kesempatan kerja, dan penguatan kapasitas industri dalam negeri,” ujar Tohom, Senin (10/8/2025).
Kerja sama TCTP Indonesia-China tersebut diperkirakan memiliki nilai investasi Rp37,1 triliun.
Selain KEK Industropolis Batang, kerja sama itu juga mencakup Bintan Industrial Estate dan Aviarna Industrial Estate.
Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus Edwin Manansang sebelumnya menyebut TCTP berpotensi menjadi katalis pengembangan Eco-Industrial Park.
Pengembangannya mencakup transfer teknologi hijau, simbiosis industri, investasi berkualitas, energi bersih, ekonomi sirkular, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan integrasi rantai pasok internasional.
Tohom menilai konsep Eco-Industrial Park di Batang perlu dikembangkan sebagai ekosistem industri yang mempertemukan kepentingan investasi dan efisiensi energi.
Konsep itu juga harus tetap menjaga produktivitas, perlindungan lingkungan, serta pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.
“Kalau Batang mampu membangun model industri yang kompetitif sekaligus rendah karbon, kawasan ini bisa menjadi etalase baru Indonesia dalam menawarkan masa depan industrialisasi kepada investor global,” katanya.
KEK Industropolis Batang telah memiliki modal awal menuju kawasan industri hijau melalui capaian Greenship Neighborhood Platinum pada tahap desain dan perencanaan.
Kawasan tersebut juga telah memanfaatkan PLTS untuk Network Operation Center dan penerangan jalan.
Selain itu, KEK Batang memiliki IPAL terintegrasi berkapasitas 18.000 meter kubik per hari.
Jaringan perpipaan sekitar 18 kilometer dan fasilitas pengolahan sampah terpadu berkapasitas 35 ton per hari juga telah tersedia.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pembangunan kawasan industri masa depan harus memiliki keterhubungan kuat dengan wilayah penyangga.
Menurutnya, pertumbuhan investasi jangan sampai menciptakan kantong ekonomi yang berdiri sendiri dan terpisah dari masyarakat sekitar.
“Batang harus tumbuh bersama daerah di sekitarnya melalui konektivitas logistik, perumahan pekerja, pendidikan vokasi, UMKM, transportasi, dan pengembangan pusat-pusat ekonomi baru,” ujar Tohom.
Ia menilai pola pembangunan seperti itu akan membuat manfaat investasi menyebar lebih luas dan tidak hanya terkonsentrasi di dalam kawasan industri.
Tohom juga memandang kesiapan proyek hijau menjadi faktor penting karena investor dan lembaga pembiayaan semakin membutuhkan data lingkungan yang terukur.
Standar, baseline, serta sistem measurement, reporting, and verification atau MRV dinilai semakin penting sebelum modal ditempatkan.
Karena itu, Tohom mendukung penguatan fasilitas penyiapan proyek hijau di KEK Batang.
Fasilitas tersebut dibutuhkan agar peluang investasi dapat diterjemahkan menjadi proyek yang matang secara teknis dan layak secara ekonomi.
“Industri hijau bukan hanya bicara panel surya atau pengolahan limbah, tetapi bagaimana seluruh ekosistem produksi dibangun lebih efisien, rendah emisi, terukur, dan tetap memberikan keuntungan ekonomi yang kuat,” katanya.
MARTABAT Prabowo-Gibran juga memandang keterlibatan masyarakat lokal harus menjadi salah satu ukuran keberhasilan pengembangan KEK Batang.
Hal itu dapat dilakukan melalui peningkatan keterampilan tenaga kerja, kemitraan UMKM, pendidikan vokasi, dan perluasan akses pasar.
KITB saat ini telah menginisiasi pembelajaran bersama dengan 29 SMK di Kabupaten Batang.
Proyek percontohan juga dijalankan pada empat SMK bersama pemerintah daerah serta mitra industri.
Penguatan ekonomi lokal turut dilakukan melalui program food truck yang membuka akses pasar di dalam kawasan bagi masyarakat.
Program tersebut kini telah berkembang menjadi tujuh unit aktif.
“Target akhirnya harus jelas, yaitu investasi tumbuh, industri nasional semakin kuat, teknologi hijau berkembang, tenaga kerja lokal naik kelas, dan UMKM masuk ke rantai pasok,” tutur Tohom.
Ia menambahkan, masyarakat sekitar juga harus merasakan langsung nilai ekonomi dari kehadiran kawasan industri.
Tohom menilai keberhasilan Batang nantinya dapat menjadi model pengembangan kawasan industri hijau di berbagai daerah Indonesia.
Penerapannya tetap perlu menyesuaikan karakter ekonomi, sumber daya, dan keunggulan masing-masing wilayah.
“Dengan kepemimpinan nasional yang konsisten pada hilirisasi dan industrialisasi, Indonesia memiliki peluang besar menjadikan investasi asing sebagai instrumen untuk memperkuat kemandirian ekonomi,” pungkas Tohom.
Ia menilai arah tersebut juga dapat memperkuat daya saing produk industri Indonesia di pasar dunia.
[Redaktur: Sandy]