Dulunya, Astri mengira bahwa peran dalang hanya bisa dimainkan oleh orang dewasa.
Akan tetapi pertemuannya dengan salah satu dalang cilik saat itu membuatnya menyadari bahwa dalang tidak hanya bisa dimainkan oleh orang dewasa.
Baca Juga:
BPK Perwakilan Sumut Terima LKPD Unaudited TA 2025 dari Pemkab Karo Tepat Waktu Sesuai Amanat Undang-Undang
“Waktu itu memang sudah suka wayang, tapi enggak kepikiran kalau ada dalang cilik. Bahkan dalang cilik yang waktu itu saya temui itu masih kelas II SMP. Dari situ saya semakin mantap buat belajar dan cari info les pedalangan,” ungkapnya.
Guru pertamanya tatkala itu adalah Ki Parjaya.
Kala itu ia belajar seni pedalangan di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Seni dan Budaya.
Baca Juga:
Arus Mudik Lebaran Usai, PLN Catat Lonjakan Penggunaan SPKLU Lebih dari 4 Kali Lipat Dibanding Tahun 2025
Di sana, rupanya banyak juga anak-anak yang belajar mendalang.
Meski nyatanya yang perempuan hanya dia seorang.
Selama belajar mendalang, Astri sadar bahwa eksistensi dalang perempuan di Yogyakarta masih rendah.