Kombinasi ini, menurutnya, akan menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi regional.
Lebih lanjut, Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch mengatakan bahwa pendekatan kawasan seperti ini harus menjadi model nasional.
Baca Juga:
Tim Anggar Jambi Raih Empat Medali Perunggu di Kejurnas Piala RDPS Cup 2026 Palembang
“Apa yang dilakukan di Solo Raya ini bisa menjadi blueprint bagi wilayah lain di Indonesia. Aglomerasi bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang pemerataan pembangunan dan penguatan daya saing nasional,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung ekosistem aglomerasi tersebut.
Menurutnya, keterlibatan akademisi akan memperkuat basis riset, inovasi, serta pengembangan sumber daya manusia yang menjadi kunci keberlanjutan ekonomi kawasan.
Baca Juga:
Hibah Rp115,94 Miliar untuk Smart City IKN, MARTABAT Prabowo-Gibran: Investasi Pengetahuan dan Teknologi
“Jika akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah bisa berjalan seirama, maka kita tidak hanya bicara pertumbuhan, tetapi juga kualitas pembangunan. Ini yang akan membawa Solo Raya menjadi episentrum ekonomi baru di Jawa Tengah,” jelasnya.
Tohom optimistis bahwa dengan kolaborasi yang kuat, Solo Raya tidak hanya mampu meningkatkan investasi, tetapi juga membuka lapangan kerja yang lebih luas serta memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]