Ia juga menyoroti capaian KEK Batang yang telah menarik investasi lebih dari Rp22 triliun dan menciptakan sekitar 10 ribu lapangan kerja dalam tiga tahun terakhir.
Bagi Tohom, angka tersebut mencerminkan efektivitas desain kawasan dan tata kelola yang profesional.
Baca Juga:
Arsjad Rasjid: Jangan Cepat Puas, KEK Indonesia Masih Belum Optimal
“Pertumbuhan ekonomi Batang yang melampaui rata-rata nasional menunjukkan bahwa kawasan industri berbasis ekosistem mampu mendorong akselerasi ekonomi daerah sekaligus nasional,” ujarnya.
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini menambahkan bahwa KEK Batang idealnya diposisikan sebagai simpul penting dalam jaringan aglomerasi ekonomi Jawa bagian utara.
Menurutnya, konektivitas antara KEK Batang dengan pelabuhan, jalan tol, kawasan industri lain, serta pusat-pusat permukiman harus terus diperkuat agar tercipta efisiensi logistik dan daya saing kawasan.
Baca Juga:
41 Tower Hunian Digarap Konsorsium AS dan Korea, MARTABAT Prabowo-Gibran: Wujud Otorita IKN Kian Nyata
“Aglomerasi adalah kunci. Jika kawasan-kawasan ini saling terhubung, Indonesia akan memiliki klaster ekonomi yang kuat di mata investor global,” jelasnya.
Tohom menegaskan MARTABAT Prabowo–Gibran melihat KEK Batang sebagai contoh konkret bagaimana visi pembangunan ekonomi nasional dapat diterjemahkan ke level kawasan.
Ia berharap model serupa direplikasi di wilayah lain dengan tetap menjaga prinsip inklusivitas, keberlanjutan, dan kepastian usaha.