Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa penguatan UMKM di Solo Raya harus dilihat sebagai bagian dari pembangunan kawasan ekonomi yang lebih luas, terutama karena daerah aglomerasi membutuhkan pelaku usaha lokal yang adaptif, kreatif, dan mampu memanfaatkan teknologi.
Ia mengatakan pelatihan digital bagi UMKM juga selaras dengan arah pembangunan nasional yang ingin menjadikan ekonomi rakyat sebagai basis pertumbuhan yang lebih merata dan tidak hanya bertumpu pada pelaku usaha besar.
Baca Juga:
Polda Jambi Perkuat Sinergi dengan Awak Media melalui Kegiatan Kemitraan
“Ketika UMKM naik kelas, penyandang disabilitas ikut mendapat ruang, kampus terlibat langsung, dan teknologi digunakan untuk memperkuat daya saing, maka kita sedang membangun fondasi ekonomi yang lebih berkeadilan,” ucap Tohom.
Tohom juga mengapresiasi rencana pendampingan lanjutan pada 18 Juli 2026 dan 1 Agustus 2026 karena keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari banyaknya materi yang disampaikan, tetapi dari kemampuan peserta menerapkan ilmu tersebut dalam usaha sehari-hari.
Menurutnya, pendampingan menjadi tahap penting agar pelaku UMKM tidak berhenti pada pemahaman konsep, melainkan mampu membuat konten promosi, membaca data pelanggan, mengelola media sosial, membangun layanan personal, dan meningkatkan penjualan secara bertahap.
Baca Juga:
PBTI Tunjuk Ketua Kareteker TI Jambi, SK Resmi Diserahkan ke KONI Provinsi Jambi
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 9 tentang industri dan inovasi, SDG 10 tentang pengurangan kesenjangan, serta SDG 17 tentang kemitraan.
“MARTABAT Prabowo-Gibran mendorong semakin banyak kampus, pemerintah daerah, komunitas usaha, dan dunia industri bergerak bersama memperkuat UMKM agar transformasi digital benar-benar dirasakan oleh rakyat,” ujar Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]