Bola yang dipakai dengan terbalut dengan klaras (daun pisang kering) dan pelepah pohon pisang.
Kemudian, jaring gawang juga dari pelepah pohon pisang. Untuk wasit membawa kartu kuning dari pisang matang serta kartu merah dari jantung pisang.
Baca Juga:
Perkuat Keamanan Digital, Pemkab Karo Jalin Kerja Sama Sertifikat Elektronik dengan BSSN RI,Layanan Administrasi Lebih Cepat
"Karena sifatnya edukasi untuk membangun kesadaran makanya anak-anak atau yang nonton dikenalkan berbagai jenis tanaman pisang. Itu dipamerkan berbagai jenis tanaman pisang, kemudian kaitannya pisang dengan budaya spiritual yang ada di Kecamatan Borobudur untuk uba rampe slametan (pisang dipakai untuk selamatan)," tuturnya.
"Ini melibatkan ibu-ibu di masing-masing desa, mereka harus mendukung kegiatan ini. Mereka masak dan minuman berbasis tanaman pisang, selain dilombakan nanti makanan yang dibuat ibu-ibu tersebut," kata dia melanjutkan.
Panji menambahkan, setiap tim ada 7 orang dan tidak boleh memakai sepatu.
Baca Juga:
PLN Hadirkan Fitur Simulasi Biaya di PLN Mobile, Pelanggan Bisa Hitung Estimasi Layanan Secara Mandiri
Selain itu, pemain memakai atribut dari pohon pisang.
"Peserta di bawah usia 15 tahun, SD sampai SMP, nggak boleh pakai sepatu. Seperti sepak bola orang desa pada umumnya," tuturnya.
Sementara itu, salah satu warga Wringinputih, Muhammad Rofingi mengatakan dengan adanya Liga Pisang ini masyarakat bisa melihat anak-anak bermain bola meski jumlahnya sedikit.