Investasi yang masuk perlu diarahkan untuk memperbesar kapasitas produksi domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap barang industri dari luar negeri.
“Indonesia jangan puas hanya menjadi tempat berdirinya pabrik karena kita harus masuk lebih jauh ke teknologi, riset, rekayasa, rantai pasok, dan pengembangan produk,” katanya.
Baca Juga:
49 Hotel BUMN Masuk Satu Holding, MARTABAT Prabowo-Gibran: Momentum Bangun Raksasa Hospitality Nasional
Tohom melihat pendekatan berbasis teknologi di KEK Industropolis Batang dapat membuka peluang transfer pengetahuan kepada tenaga kerja dan perusahaan nasional.
Hal tersebut menjadi penting agar investasi asing memberikan dampak jangka panjang terhadap kemampuan industri Indonesia.
Ia juga mengapresiasi pengembangan program PRIMA atau Program Rintisan Industri Masa Depan yang membawa aspek Environmental, Social, and Governance dalam transformasi kawasan.
Baca Juga:
KEK Kura Kura Bali Buka Pasar Global bagi IKM, MARTABAT Prabowo-Gibran: Model Pemberdayaan yang Perlu Diperluas
Menurutnya, kawasan industri masa depan harus mampu mempertemukan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan dan manfaat sosial.
“Industri yang kita bangun hari ini harus mampu bertahan puluhan tahun ke depan, sehingga teknologi, efisiensi energi, pengelolaan lingkungan, dan hubungan dengan masyarakat harus dirancang sejak awal,” ujar Tohom.
Ia menilai prinsip keberlanjutan juga semakin menentukan daya saing kawasan industri dalam menarik investor global.